Be Your self

by ZiE on February 19, 2009

Renungkan kembali peran-peran yang telah kita jalani selama ini. Adakah kejujuran dan kesederhanaan disana? Atau kepura-puraan yang merumitkan kita sendiri? Dimaklumi, banyak orang membangun benteng berupa topeng-topeng diri yang dapat ditukar pakai di setiap keadaan. Tak heran bila ada orang yang berkata, dalam sebuah karnaval, kita menggunakan topeng diatas topeng kita. Percayalah itu semua menyiksa dan semu. Temukan diri kita sesaat sebelum tidur malam, atau segera setelah bangun pagi. Rasakan betapa polosnya dan sederhanannya diri kita. Saat itu, renungkan kembali peran yang kita jalankan.

Seorang bijak menganjurkan,”jadilah layaknya kayu cendana yang menebarkan keharuman keseluruh udara. Mereka yang menyentuhnya turut menjadi harum. Bahkan ketika dipotong pun., kayu cendana memberi wangi pada pisau yang telah membelahnya”. Kita bisa menuliskan kembali peran kita. Peran yang”everlasting”, yang jauh melebihi usia kita; yang layak dikenang untuk sejarah kita dibumi ini. Yaitu, peran untuk menjadi diri kita sendiri; diri kita yang sederhana dan apa adanya.

Banyak orang yang bersembunyi dibalik bayang bayang orang lain, sekedar untuk ikut menikmati sedikit keberhasilan. Mereka mengakui ide, jerih payah, karya dan keberhasilan orang lain sebagai milik mereka. Bila kita melakukan hal ini, maka ini bukan saja kegagalan kita, namun juga kekalahan telak bagi integritas kita. Akuilah keberhasilan orang lain dengan menghormati dan menghargai apa yang telah mereka raih. Nyatakan dengan tulus keberhasian itu bukan milik kita. Keberhasilan semu bagaikan pakaian indah yang terpajang dietalase toko. Seberapa bagus itu kita katakan, tetap saja kita tidak berhak untuk mengenakannya. Mulailah meniti keberhasilan kita sendiri. Meski hanya setetes, keberhasilan sejati adalah mata air bagi padang pasir kita.

Bersembunyi dibalik bayang-bayang mungkin membuat kita nyaman. Namun apa yang bisa diberikan oleh sebuah bayangan hanyalah kegelapan. Selama kita berjalan di bawah remang-remang, bagai mana kita bisa mengetahui tempat yang kita tuju?? Karena itu keluarlah!!. Tunjukkan kemampuan diri kita sendiri. Berjalan dibawah terik matahari akan selalu melelahkan. Namun keringat yang keluar itu adalah keringat kita sendiri. Itulah kehormatan kita, yang jauh lebih berharga daripada keberhasilan semu dengan menipu diri sendiri.

Bergaulah secara wajar dan sehat, jauhilah sikap yang dibuat-buat. Kelanggengan hubungan dengan sesama terjalin oleh perilaku normal. Kita mungkin sedang belajar untuk memperindah gerak-gerik dan sikap tubuh kita. Atau, kita boleh saja sedang memperbaiki kepribadian diri. Namun di atas semua itu, orang lain lebih menghormati dan menyukai kita sebagaiman adanya. Berbicaralah dengan logat kita sendiri, tersenyumlah dengan keceriaan kita sendiri, berjalanlah dengan derap langkah kita sendiri. Benar-benar, jadi diri kita sendiri.

Meski banyak orang mengatakan,”dunia ini adalah panggung sandiwara”, itu bukanlah kita harus ber-“acting” sepanjang hayat. Kita mendapatkan peran yang harus kita mainkan. Maka, mainkan peran itu sebaik-baiknya. Jangan ambilalih peran orang lain, karena kita akan membuat-buat sikap kita. Hayati diri kita dan bersikaplah sewajarnya.

{ 0 comments… add one now }

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Eight Cream